<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
IMAN ILMU AMAL. Tiga kata itu langsung menyambut kami saat melanjutkan 26 mahasiswa PPL di semester ganjil sebelumnya, bergabung dengan Labschool sebagai mahasiswa/i PPL dan kebetulan hari itu duduk di meja piket ruang guru atau tata usaha. After doin’ a little this and that, kami akhirnya mulai tune in juga dengan beberapa karyawan TU. Well, enough introduction!.
Ada setumpuk kertas yang sedikit mengganggu kami. Mayoritas karyawan TU seperti Pak Min, Pak Hisyam, dan Pak Gun secara tidak langsung memaksa kami untuk menurunkan kadar cutting edge style mahasiswa agar tidak memusuhi urusan administrasi. Hmm, okay man, let’s see what we can do about it! Contohnya di bulan februari awal ini.. kita terbukti lulus melakukan pekerjaan mengawas Try Out selama 3 hari dan mengerjakan pekerjaan TU, contohlah mensortir berkas-berkas siswa kelas XII yang bertumpuk-tumpuk itu kemudian melegalisir surat-surat yang mereka perlukan untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Agak berlebihan tidak kalau kami katakan bahwa kami berusaha mengakomodir keinginan semua golongan, guru pamong maupun karyawan tata usaha, he3..
Setiap generasi, setiap angkatan, setiap semester, dan setiap individu, yang namanya PPL memang tidak akan pernah habis dibahas. Kalau kita beradaptasi dengan baik, PPL jadi sesuatu hal yang bisa bikin kita tambah pengalaman, semua terasa ringan dan go with the flow aja. Tapi kalau kita tidak mampu beradaptasi, PPL bisa bikin kita naik darah, semua rasanya serba salah. Dalam kasus yang ekstrim, PPL bisa membuat seseorang melakukan sesuatu di bawah alam sadarnya. He3..is it you!?
Dalam satu kasus menurut Hermawan M.Si sekretaris UPT PPL UNJ, pernah ada seorang mahasiswa yang dipecat dari tempat PPL sebelum masa tugasnya habis, mahasiswa tersebut di keluarkan setelah 2 minggu PPL di satu sekolah karena bukannya membentuk karakter positif siswa disana melainkan justru menjelek-jelekkan satu instansi. Akhirnya mahasiswa tersebut memang menyelesaikan PPLnya, namun dengan nilai yang kurang baik karena diberhentikan alias di pecat oleh pihak sekolah tempatnya PPL. Berkaca dari kejadian itu, maka sebaiknya kita tidak mengeluh saat menjalankan tugas piket maupun mengajar di kelas yang anak didiknya agak special, ada juga yang scientist seperti di Labs, kita lakukan semua itu dengan satu niat yaitu ikhlas untuk belajar dan terus menjaga nama baik instansi Universitas Negeri Jakarta. Jadi guys.. PPL itu memang membutuhkan pengorbanan, anggaplah begitu. Pengorbanan untuk pembelajaran, agar kita menjadi pribadi yang lebih matang saat nanti terjun ke lapangan dan menjadi guru yang sesungguhnya.
As for us, the exact way to describe our job now is what J. Drost, SJ said on his book “Dari KBK sampai MBS”: “terjun bebas dan mengarungi jeram, merupakan olahraga orang yang berkepribadian kuat”. Jadi angkatan 2005 dimanapun kalian PPL sekarang, terjunlah ke sekolah itu, arungi jeramnya, temukan mutiara di dasarnya dan teguklah pengalaman kebermaknaan yang akan mendewasakan kalian jauh, jauh, jauh… dari diri kalian yang sebelumnya maka dengan begitu insyaallah kalian akan menjadi seseorang yang berkepribadian kuat. Amin.







Jadikan setiap lembar peristiwa dalam hidupmu sebagai lembaran pengalaman . Nah sebagai bahan renungan boleh baca kisah seorang guru kecil Adora Svitak di http://fassaad.wordpress.com/2009/02/27/guru-kecil-adora-svitak/
nice, good, inspiratif…
pengalaman adalah guru yang paling berharga.. yes!! niat tulus ikhlas akan usaha yang kita raih akan mengantar kita pada ketenangan dan jiwa yang terus bersemangat…
mulialah pejuang ilmu… yakin bahwa pondasi ilmu akan terbangun hingga menghasilkan generasi dan peradaban yang lebih maju…