Tanah Air.. ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun aku pergi jauh..
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang ku cintai
Engkau ku hargai..
Inilah sekumpulan “keringat” dari 27 Januari hingga 28 Januari 2009 yang mewujud menjadi sebuah tulisan. Referensi utama pendukung tulisan ini hanyalah jejak langkah dalam Pelatihan dan Workshop yang dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi Jurusan Ilmu Agama Islam Angkatan 2005 Program Studi Ilmu Pendidikan Islam dan Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam di Sekolah Insan Teladan, Kalisuren, Tajurhalang, Bogor.
Beberapa kalimat akan dilengkapi dengan sedikit daftar pustaka, tentunya hanya dengan tujuan untuk menambah gizi tulisan ini (yeah…if you are such an academic person with a big curriousity and well educated, this is a must read article right! He3…), tidak ada teori yang jelimet, namun nantinya akan ada common sense yang terbentuk berkat sejumput pengalaman yang barangkali bisa bermakna bagi siapapun. Rasa ingin berbagi yang begitu besar kepada seluruh keluarga IAI yang memiliki komitmen dan dedikasi tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan mendorong lahirnya tulisan ini.
Sore itu ba’da ashar saat matahari memamerkan cahaya merahnya mahasiswa angkatan 2005 didampingi dengan Sekjur IAI, Andi Hadiyanto, Syamsul Arifin, dan Dede Kurnia berangkat menuju Sekolah Insan Teladan, HMJ IAI rasanya tidak pernah bisa melewatkan satu kegiatanpun tanpa kehadiran mereka didalamnya, jadi Lantoro, Gandi, Eneng, dan Rakhmawati terlihat juga ikut sibuk memasukkan barang-barang mereka ke dalam bus. Ini acara umum bung, semuanya boleh ikut!
Setiba disana kami disambut dengan senyum yang begitu ramah kemudian dipersilahkan menempati ruang-ruang kelas dengan tikar sebagai alas tidurnya, sesuatu yang ahh… sulit rasanya, di Jakarta kami terbiasa terbaring dalam ruang private kamar masing-masing yang nyaman dan empuk tentu.
Setelah makan malam acara dimulai dengan sambutan dan selintas pandang tentang sekolah Insan Teladan oleh Diana Safitri sebagai Kepala Sekolah kemudian dilanjutkan dengan Pengenalan Pendidikan Nilai-nilai Kemanusiaan Sathya Sai oleh Mantra. Wait, Mantra isn’t a holy word, itu adalah nama salah satu guru yang mengajar disana. Beliau adalah sosok yang inspiratif, menyenangkan, dan pandai bercerita.
Lihatlah caranya bercerita tentang seorang sarjana dan nelayan. Sarjana tersebut baru saja lulus dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Sebut saja namanya A, sama seperti sarjana manapun setelah berhasil menyelesaikan kuliahnya, mereka akan kembali sejenak untuk pulang ke kampung halamannya. Begitu juga dengan pria ini, setelah berjibaku dengan materi kuliah yang tak kunjung habis, tidak tidur siang malam untuk merampungkan skripsi, dan akhirnya berhasil juga lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dirinya secara subyektif. Dia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, namun ada satu masalah yang harus dilewatinya.. jalan menuju rumahnya hanya ada satu, yaitu melalui air, naik perahu kecil yang hanya cukup menampung dua orang saja didalamnya. Cincailah… bukan masalah besar untuk ukuran sarjana. Akhirnya dia menaiki perahu tersebut, perjalanan yang cukup jauh membuatnya bosan dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk diam saja hingga tiba diseberang. Di sapanya nelayan tersebut..
”Pak, bapak tahu tidak kalau sekarang ini sedang terjadi perang di Palestina, semua orang membicarakan hal ini loh pak, israel tidak pernah menghentikan serangannya siang dan malam, tak peduli hal itu mengakibatkan hilangnya banyak nyawa. Sang anak kehilangan ayahnya dan orangtua kehilangan anak-anak mereka. Menurut bapak bisa tidak serangan tersebut berakhir? apa yang akan terjadi nantinya? akankah tercipta damai di gaza?”
Nelayan tersebut mengeryitkan dahinya, menatap mata sarjana tersebut dengan tajam dan sedikit serius, kemudian mulai bicara:
”Maaf… saya hanya seorang nelayan.. setiap hari yang saya lakukan hanya mengayuh sampan menyeberangi pulau. Saya tidak tahu apa-apa tentang serangan itu..”
Sarjana itu menyilangkan tangannya, memalingkan wajahnya dengan sedikit sebal dan berkata:
“Anda ini benar-benar ketinggalan informasi, kalau begitu.. 25% dari hidup anda sudah tidak berguna lagi!”
Perahu terus dikayuh, namun kali ini sang nelayan telihat agak menundukkan kepalanya, hatinya mungkin sedih akan sikap kurang menyenangkan dari sarjana itu. Tapi tetap saja dia berusaha menyelesaikan tugasnya mengantarkan sarjana itu sampai ke seberang. Sarjana itu mencoba mengalihkan pandangan ke segala sudut namun yang dilihatnya hanya air, lagi-lagi kebosanan menyerangnya, terpaksa dia menyapa nelayan itu lagi untuk yang kedua kalinya, diperhatikannya peluh nelayan itu, rasa kasihan menyelimutinya maka kemudian dia berkata:
”Pak, apa anda tahu bahwa bursa saham akhir-akhir ini semakin menggeliat, banyak orang sibuk bergelut disana, kira-kira bagaimana yah kondisi pasar saham kita tahun depan?”
Nelayan itu kembali mengeryitkan dahinya, tadi sewaktu sang Sarjana mengatakan ’pasar’, wajahnya sempat berkilat cerah, namun saat menyeruak kata ’saham’ dibelakangnya, air wajahnya kembali tidak jelas, maka ucapnya perlahan:
”Maaf…. saya ini seorang nelayan, yang saya tahu hanya pasar ikan saja, setiap pagi saya jual beli ikan disana, kalau pasar saham saya sama sekali tidak tahu, apa saya juga bisa menjual ikan disana?”
Sarjana tersebut kembali menyilangkan tangannya, kali ini sambil sedikit mendengus kesal dan melihat nelayan itu
”Anda ini bagaimana sih pak, semua orang tahu tentang hal itu, hanya bapak saja yang tidak tahu, bagaimana anda ini! 50% dari hidup anda itu benar-benar sudah tidak berguna lagi!”
Kali ini sang nelayan lebih dalam menundukkan kepalanya, bukan main bingungnya nelayan itu, tidak tahu apa yang harus dikatakannya, hanya terus dikayuhnya perahu itu dalam diam yang abstrak. Tujuh menit kemudian.. kebosanan kembali menyerang Sarjana itu, andai saja ada sinyal handphone disana tentu saja dia akan memilih untuk menelepon sejuta temannya daripada berbicara dengan nelayan ’jaka sembung bawa gitar, ga’ nyambung jreng!’ itu, tapi karena berharap ada sinyal di handphone dalam keadaan seperti itu merupakan mission impossible, maka lagi-lagi terpaksa ia menyapa nelayan itu
”Pak, saya bisa memahami kalau anda mungkin tidak paham mengenai perang di Palestina ataupun pasar saham… (wajah sang nelayan mulai agak sedikit cerah) namun saya ingin mendengar pendapat bapak mengenai global warming, karena hal itu kan berhubungan dengan profesi bapak sebagai seorang nelayan”
Wajah sang nelayan itu yang tadi cerah mendadak kembali bingung, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya, akhirnya di jawabnya lirih
“Maaf… tentang hal itu juga saya tidak tahu.. apa itu gelobal wareming.. maaf… maaf.. saya tidak tahu apa-apa..”
Kali ini muntablah sudah sarjana itu, rasanya percuma dia mencari topik apapun, toh tetap saja nelayan tersebut tidak akan mengerti
“Nelayan, anda ini sungguh kelewatan, masa hal seperti itu juga anda tidak tahu, sekarang ini sudah bukan 25 ataupun 50% lagi, tapi 75% dari hidup anda sudah tidak berguna lagi!
Kali ini sang nelayan tak karuan suasana hatinya, bayangkan saja, sarjana itu berteriak keras di depannya. Tiba-tiba saja cuaca menjadi kurang baik, perubahan cuaca terjadi dengan sangat cepat dan tidak dapat diprediksi, angin yang hebat dan awan yang begitu gelap mengisyaratkan bahwa sebentar lagi akan muncul badai maha dahsyat, ombak semakin menderu-deru dan membuat sarjana itu hampir pingsan karena ketakutan.
”Hai nelayan, ada apa ini sebenarnya, kenapa cuaca tiba-tiba berubah?”
”Akan terjadi badai pak, kita tidak bisa selamat jika menggunakan perahu ini, angin akan mendorong kita sampai ketengah badai, satu-satunya jalan adalah kita harus terjun dan berenang sampai ke seberang pulau. Apakah anda bisa berenang? Mari kita lompat sekarang juga! Atau kita akan terlambat!”
”Tunggu, saya tidak bisa berenang! Bagaimana sekarang, apa yang harus saya lakukan?”
”Maaf pak, saya hanya seorang nelayan, saya tidak tahu cara lain. Kalau anda tidak bisa berenang berarti bukan hanya 25, 50, maupun 75%, tapi 100% dari hidup anda sudah tidak berguna lagi!”
Maka lompatlah nelayan itu hingga ia selamat sampai ke pulau seberang, jenazah sarjana itu ditemukan dipinggir pantai pada keesokan harinya.
Selesai Pak Mantra menuturkan kisahnya, sontak mahasiswa IAI dan dosen tertawa terbahak-bahak, detik itu kami mulai paham bahwa yang kita peroleh di bangku kuliah saat ini hanyalah teori bukan praktek, semua itu tidak menjadi jaminan bahwa kita akan siap terjun ke dunia kerja. We aren’t that ready stock! He3.. ^_^ itu pula yang saat ini menjadi polemik yang belum tertuntaskan dalam dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan yang didalamnya para guru mempunyai tanggung jawab penuh, guru-guru yang penuh dedikasi dan pengabdian pada bangsa. Kalau dulu menjadi guru adalah sebuah pengabdian, maka saat ini menjadi guru adalah sebuah pemenuhan kebutuhan ekonomi semata, like someone was said:
”mengajar oh mengajar, dahulu mengajar adalah ilmu untuk ilmu.. sehingga guru menjadi agent of change tokoh perubah peradaban, sekarang mengajar adalah ilmu untuk uang.. sehingga guru adalah pedagang ilmu yang menjajakan kebinalan intelektualitas perut semata..
UNTUK MENCIPTAKAN SATU PERADABAN KITA BUTUH SATU GENERASI
JADILAH GENERASI TERSEBUT..MERDEKA![i]
Itulah yang kurang dipahami oleh mahasiswa jebolan IKIP tempoe doeloe UNJ sekarang, konsep yaitu bahwa seharusnya pendidikan bukan hanya mengarah kepada aspek kognitif, tapi ranah afektif juga harus bisa kita sentuh melalui dunia pendidikan. Konsepnya sudah ada, tinggal bagaimana kita meraciknya dalam suatu tatanan apik yang utuh dan menarik. Bangsa kita harus disadarkan akan the urgent of internalization education, dimana penanaman nilai-nilai tidak hanya berusaha menyentuh dalam tataran fikiran namun telah terwujud dalam pribadi yang utuh, pribadi yang nantinya akan membentuk satu generasi seperti yang dipaparkan diatas. Mungkinkah Visi Pendidikan Indonesia 20 atau 30 tahun kedepan mewujudkan hal itu? Ingatlah kawan… pendidikan pada era tersebut ada di bahu kita, di bahu generasi kita!.
Merujuk kepada fenomena pendidikan itulah, maka sekolah Insan Teladan melalui kerjasama dengan Yayasan Sathya Sai yang merupakan Institute of Sathya Sai Education’s branch dan Yayasan Nur Ilahi memasukkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan dalam kurikulum sekolah mereka, inti dari pendidikan dituangkan dalam konsep belajar nilai-nilai kemanusiaan terpadu yang tercakup dalam lima hal yaitu:
1. Kebenaran
2. Kebajikan
3. Kedamaian
4. Kasih Sayang
5. Tanpa Kekerasan
Model pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan terpadu/Human Values Integrated Instructional Model tertuang dalam tujuh langkah sebagai berikut:
1. Interaction with the environment
2. Interpretation
3. Understanding
4. Reinforcement
5. Modification of Understanding through the Sixth Sense
6. Modification of Understanding – Discrimination
7. Intuition and conscience – The Super_Conscious Mind[ii]
Workshop hari itu padat terisi dengan konsep belajar nilai-nilai kemanusiaan terpadu, dilengkapi dengan bukti-bukti empiris serta rekomendasi penerapan model ini, kami juga sempat mengikuti beberapa kegiatan mereka mulai dari masuk sekolah pukul 07.15, bernyanyi, berbaris, silent sitting yang berlangsung dengan sanga senyap meski diantara suara desing kendaraan bermotor, hingga berolah raga bersama murid-murid disana, letih karena team mahasiswa memforsir diri untuk olahraga padahal biasanya tidak pernah! Namun akhirnya dihibur dengan manis oleh paduan suara dan drumband sekolah insan teladan.
Selebihnya, acara tersebut sangat menarik karena membuka wawasan baru bagi kita dan mudah-mudahan mampu melahirkan sumber daya manusia yang peduli dengan nilai-nilai luhur bangsa dan nilai-nilai agama yang sedikit pudar kesakralannya dewasa ini. Masing-masing dari kita setelah hari itu tentunya menginginkan lahirnya insan-insan yang unggul dengan kepribadian yang utuh dan kapasitas intelektual yang kaffah.
Akhir dari tulisan ini… adalah sebuah ucapan terima kasih sebagai bentuk ungkapan yang tak terukur kepada tiga dosen pembimbing kami yang menghantarkan kami tiba, mengenal, dan belajar di sekolah tersebut. Tunggu saja.. sepertinya mahasiswa-mahasiswa anda ini akan mampu membawa kedamaian di dunia, membangun sebuah civic virtue yang menjadi pondasi bagi perubahan masyarakat menuju civil society. Could it be?
Let it be us.. Putra dan Putri Indonesia.
[i] Abdul Fatah, 2009/01/27 at 7:56 pm comment at tyramisyu.wordpress.com
[ii] Art-Ong Jumsai Na-Ayudha, Human Values Integrated Instructional Model, Bangkok: Chulalangkorn University, p. 15.